Pelajaran Menyenangkan itu Bernama Kimia
Terdengar "aneh" bagi semua orang yang membaca judul di atas, "kimia pelajaran yang menyenangkan?" bukannya justru pelajaran yang "sulit" dan "abstrak"?. Iya, dua hal itu adalah benar dan merupakan hasil dari persepsi sebagian besar pelajar ketika pertama kali mendengar kata "kimia", termasuk saya. Lalu, apa yang membuat kimia menjadi menyenangkan untuk dipelajari oleh pelajar atau mahasiswa?.
Sama seperti pelajaran lainnya, mempelajari kimia itu tidaklah mudah, bahkan para dosen kimia sekalipun, ketika mereka berkuliah dari jenjang sarjana hingga doktor, akhirnya mereka merasa "oh, ini bidang kimia yang saya kuasai". Bahkan pernah suatu waktu dosen kimia organik saya berkata, "jika kamu menanyai saya tentang kimia fisik saat ini, saya perlu waktu untuk membuka kembali catatan saya tentang itu".
Jadi, kenapa kimia itu pelajaran yang menyenangkan? Setidaknya ada dua alasan yang mendasari pernyataan saya di atas, yaitu (1) dengan mempelajari kimia sejatinya kita sedang belajar bagaimana benda-benda disekitar kita bisa terbentuk, dan (2) dengan mempelajari kimia sejatinya kita sedang belajar memahami fenomena-fenomena yang Allah ciptakan.
Apakah kita pernah bertanya bagaimana baju yang kita kenakan, gawai yang kita genggam, atau makanan yang kita makan bisa terbentuk? Seringnya kita hanya tahu cara menggunakannya saja dalam kehidupan sehari-hari. Nyatanya, baju yang kita kenakan setiap hari selain terbuat dari serat-serat alami dari tumbuhan dan hewan, ternyata ada juga yang terbuat dari serat sintetis yang terbentuk dari proses kimia seperti rayon, poliester, dan nilon. Sebagai gambaran, serat sintetis dibuat dengan mereaksikan bahan kimia menjadi polimer, kemudian diekstrusi (ekstrusi: proses mendorong suatu material seperti logam, plastik, atau bahan makanan melalui cetakan yang memiliki bentuk tertentu) menjadi serat tipis yang bisa ditenun menjadi kain.
Contoh lainnya adalah penggunaan lapisan organik dalam OLED (organic light-emitting diodes). Lapisan organik ini dipilih karena keunggulannya seperti efisiensi cahaya yang lebih tinggi dan ramah lingkungan. Selain itu, panel layar OLED juga dapat dibuat lebih ringan dan tipis dengan sudut pandang yang lebih lebar, serta dapat menghemat konsumsi daya secara signifikan. (Jikang, 2025).
Apakah kita pernah merenungi firman Allah berikut:
(190) إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
(191) ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Ali Imran 190-191).
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam kondisi apapun. Baik dalam kondisi berdiri, duduk maupun berbaring. Dan mereka juga senantiasa menggunakan akal pikiran mereka untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi. Mereka pun berkata, “Wahai Rabb, Engkau tidak menciptakan makhluk yang sangat besar ini untuk bersenda gurau. Mahasuci Engkau dari senda gurau. Maka jauhkanlah kami dari azab Neraka, dengan cara Engkau bimbing kami kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan Engkau lindungi kami dari perbuatan-perbuatan yang buruk. (Tafsir al-Mukhtashar).
Sederhananya, Allah menciptakan akal pikiran pada kepala manusia salah satu tujuannya adalah untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi, memahami dan menganalisis fenomena-fenomena yang Allah ciptakan dan Allah tampakan kepada manusia dan dengan akal pikiran tersebut, manusia, hamba Allah, dicap sebagai orang-orang yang berakal. Lalu bagaimana kita bisa ke tahap tersebut? Salah satunya dengan mempelajari ilmu kimia.
Karena sejatinya, ketika seseorang mempelajari ilmu kimia, dia juga sedang mempelajari, memikirkan, memahami bagaimana alam semesta bisa tercipta atas kekuatan dan kekuasaan Allah yang Maha Besar. Terlepas kimia adalah ilmu yang bersifat kifayah, tetapi dengan ilmu kimia, kita bisa menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang berakal dan pandai bersyukur atas semua proses penciptaan Allah dari hal yang paling besar seperti alam semesta hingga hal yang paling kecil seperti atom.
Sumber:
- Jikang, L. (2025). The application of organic materials used in OLED display. Results in Optics, 100856.
- TafsirWeb. Surat Ali Imran Ayat 190-191. https://tafsirweb.com/37646-surat-ali-imran-ayat-190-191.html. Di akses pada 17 Agustus 2025, 15.50 WIB.
Komentar
Posting Komentar